[PRESS RELEASE] Patahkan Kesunyian, Akhiri Kekerasan Seksual – OBR Jogja

Bangkit, Lepas dan Menari di One Billion Rising Jogja!

Tiap tahun, kekerasan seksual selalu dijadikan agenda utama perjuangan perempuan. Namun ironisnya,  kasus kekerasan seksual selalu meningkat tiap tahunnya. Tahun 2012, menurut catatan Komnas Perempuan terdapat 4.336 kasus kekerasan seksual yang terjadi di seluruh Indonesia. Pun terjadi di tahun berikutnya, angka kasus kekerasan seksual tidak pernah turun dan justru mengalami kenaikan yang signifikan.

Di tengah pesatnya demokrasi di Indonesia, memiliki produk hukum yang progresif seharusnya menjadi prasyarat utama. Faktanya, produk hukum yang tidak berpihak pada perempuan korban kekerasan seksual menjadi satu dari sekian penyebab makin meningkatnya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Jangankan produk hukum yang progresif, seringkali pelaku kasus perkosaan hanya dikenai pasal perbuatan tidak menyenangkan. Padahal menghukum seberat-beratnya pelaku perkosaan hingga menimbulkan efek jera merupakan salah satu upaya meminimalisir berulangnya kasus perkosaan. Namun sayangnya, hukum di Indonesia belum menunjukkan keberpihakannya pada perempuan, sehingga pelaku dapat lolos dengan mudah. Di keseharian, mendengar perkosaan menjadi bahan candaan sangat jamak kita temukan. Seringkali perempuan disalahkan dan dianggap ‘memancing’ pelaku untuk memperkosa karena perilaku dan pakaian yang mereka kenakan. Fenomena ini menjadi bukti bahwa budaya kekerasan masih mengakar kuat di keseharian kita. Dua hal di atas tentunya bukan soal sepele.

Jika tiap hari terdapat 20 perempuan yang menjadi korban kekerasan seksual, apakah kita hanya akan diam dan membiarkan?
Jawabnya sudah pasti, TIDAK!

Semangat melawan dan menolak segala jenis kekerasan seksual terhadap perempuan inilah yang mendasari One Billion Rising  (OBR) digelar. OBR merupakan kampanye global yang diikuti oleh 207 negara, dan  di Indonesia mulai diselenggarakan di tahun 2013. Kampanye ini adalah aksi perlawanan  dan solidaritas dari perempuan survivor kekerasan dan siapapun yang mendukung pemenuhan hak perempuan yang diwujudkan dalam bentuk tarian. Ini adalah bentuk tuntutan akan kondisi yang lebih aman bagi perempuan dimanapun perempuan berada.

Dengan menari, peserta OBR akan berbagi semangat perlawanan untuk menghentikan kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak. Lewat tarian, kesunyian yang melingkupi kasus kekerasan seksual akan dicoba dipatahkan.

Rise, Release, Dance for Justice ! adalah semangat yang akan dibawakan sepanjang aksi OBR di Yogyakarta. Bangkit, lepas dan menari untuk keadilan adalah ajakan bagi semua orang, bagi siapapun yang peduli terhadap perempuan dan ingin menghentikan kekerasan seksual.

OBR akan digelar di Yogyakarta serentak dengan OBR di seluruh dunia. Pada waktu yang sama Jakarta, Bandung, Semarang, Malang, Surabaya, Bali dan banyak tempat lain di dunia akan menggetarkan semangat yang sama. Aksi ini akan digelar pada Jumat, 14 Februari 2014 pukul 15.00 WIB dimulai dari trotoar depan hotel Inna Garuda hingga Titik Nol km Yogyakarta.

Di hari itu, sepanjang Malioboro akan dipenuhi oleh semangat perlawanan yang diekspresikan lewat tarian peserta OBR di Yogyakarta.

Menari adalah solidaritas. Menari adalah perlawanan.
Bangkit, lepas dan menarilah Yogyakarta!

INFO :
Contact Person :
Kordinator  Umum : Tia Setiyani (085 743 55 41 34)
Koordinator Acara : Ema (085 234 831 703)
Media dan Publikasi : Ika (081 82 78 587)

PETA & RUNDOWN ACARA

1926653_271332209691788_177992087_n

, , , , , ,

No comments yet.

Leave a Reply