Why We Rise for Justice?

OBR-AVAKasus perkosaan dan kekerasan terhadap perempuan adalah sebuah krisis global. Hal ini terjadi di semua negara di seluruh dunia, menjadi epidemi yang menghancurkan masyarakat tanpa mengenal kalangan. WHO menyatakan satu dari tiga perempuan di dunia mengalami kekerasan atau pelecehan seksual, dengan mayoritas rentang usia perempuan korban di ranah personal adalah 25 – 40 tahun. Ironisnya, dari 2.521 kasus kekerasan seksual di Indonesia, usia mayoritas korban adalah antara usia 13 – 18 tahun. Sementara, Komnas Perempuan menyatakan, setiap hari di Indonesia ada 35 perempuan yang menjadi korban kekerasan seksual, ini artinya setiap dua jam sekali ada tiga perempuan menjadi korban kekerasan seksual. Terdapat 216.156 kasus kekerasan terhadap perempuan yang dilaporkan dan ditangani selama tahun 2012. Jumlah ini meningkat secara signifikan, yaitu 181% dari tahun sebelumnya.

Fakta-fakta di ataslah yang mendorong Indonesia turut bergabung dalam gerakan global One Billion Rising yang merupakan inisiatif Eve Ensler di tahun 2013. One Billion Rising adalah panggilan global untuk perempuan, laki-laki, semua manusia dalam kesetaraan untuk menyatakan sikap anti kekerasan terhadap perempuan. Di tahun 2013, 217 negara terlibat dalam One Billion Rising yang diselenggarakan secara serempak pada tanggal 14 Febuari 2013. Indonesia sendiri berhasil menyelenggarakan One Billion Rising di 11 kota secara independen.

Di tahun 2014 ini, One Billion Rising global mengambil tema Rise For Justice. Justice atau Keadilan sebagai pusat dari ruh gerakan One Billion Rising bisa mewujud dalam bentuk apa saja. Bisa berbentuk permintaan maaf atau reparasi (ganti rugi) bagi korban melalui langkah hukum. Bisa mewujud dalam pengungkapan kebenaran. Bisa berupa tuntutan hukum (bagi pelaku), atau mendorong perubahan, atau mengimplementasikan kebijakan atau Undang-undang yang memastikan perlindungan atas hak-hak perempuan. Justice juga bisa berbentuk seruan untuk menghentikan semua bentuk ketidaksetaraan, diskriminasi, misoginisme dan patriarki. Bisa pula pemberian sanksi sosial kepada para pelaku, baik pelaku individu, korporasi maupun negara.

Di Indonesia, One Billion Rising for Justice akan berfokus pada keadilan bagi korban kekerasan. Sebab hingga saat ini, korban belum mendapatkan keadilan dari hukum dan penegak hukum, bahkan dari masyarakat. Korban masih kerap mendapatkan perlakuan tidak adil atau buruk dari para penegak hukum ketika melapor dan bahkan mendapat stigma sosial serta social blaming. Di sisi lain, mayoritas pelaku mendapatkan hukuman yang tidak setimpal dan bahkan menerima impunitas, sementara korban harus menghadapi trauma seumur hidupnya.

Data pengaduan 2011 hingga Juni 2013 menunjukkan bahwa 60 persen korban kekerasan dalam rumah tangga justru mengalami kriminalisasi, 10 persen diantaranya dikriminalkan melalui Undang-undang penghapusan kekerasan di dalam rumah tangga (UU KDRT). Sistem pelaporan dan perlindungan terhadap korban yang tidak berpihak terhadap korban dalam praktek hukum di Indonesia, stigma dan paradigma sosial yang menyalahkan korban kekerasan terutama kekerasan seksual, serta problem-problem psikologis lainnya mengakibatkan para korban memilih bungkam dan tidak melaporkan kasus kekerasan yang menimpa mereka.

Oleh sebab itu, One Billion Rising 2014 menyerukan kepada semua orang agar menyatakan sikap untuk berhenti bersikap tidak peduli. Sebab kita, kamu, saudara perempuanmu, ibumu, tantemu, anak perempuanmu, keponakanmu, istrimu, teman perempuanmu, dan atau kekasihmu bisa menjadi korban kapan saja dan di mana saja. Saatnya kita berdiri dalam kesetaraan untuk keadilan bagi korban kekerasan seksual. Mari bersama-sama mendukung para perempuan untuk membebaskan diri dari kurungan rasa malu, rasa bersalah, kesedihan, rasa sakit, penghinaan, kemarahan, perbudakan, dan menghentikan impunitas terhadap pelaku kekerasan dan pelecehan seksual.

ONE BILLION RISING FOR JUSTICE adalah seruan untuk sebuah keadilan revolusioner!